Love With Care

Artikel Pendidikan

Perbedaan Antara Otak Pria dan Wanita

Kapanpun pasangan anda mengatakan sesuatu yang menyusahkan anda, anda sedang mengalami salah satu dari banyak perbedaan antara pria dan wanita. Tapi sekali anda mengerti bagaimana Tuhan merancang perbedaan-perbedaan itu, anda bisa belajar untuk memanfaatkan semua perbedaan anda dan pasangan anda dengan baik dalam pernikahan anda. Lalu perbedaan gender itu tidak lagi akan membuat anda dan pasangan bermusuhan, perbedaan-perbedaan itu justru akan memperlengkapi anda berdua untuk memperkuat pernikahan anda.

Sadari betapa besarnya perbedaan antara pria dan wanita, Otak pria dan wanita sangat berbeda baik secara anatomi, kimiawi, hormonal, dan psikologis. Perbedaan-perbedaan itu menyebabkan perbedaan cara berpikir, merasa, dan berperilaku secara fundamental.

 

Hargai dan hormati perbedaan-perbedaan itu

Sadarilah bahwa Tuhan memang menciptakan pria dan wanita secara berbeda untuk memenuhi tujuan-tujuan yang baik. Daripada frustasi karena perbedaan-perbedaan gender, buatlah keputusan untuk menghormati mereka dan belajar bagaimana untuk memanfaatkan mereka dibanding memusuhi mereka.

 

Mengerti perbedaan cara pria dan wanita memproses informasi

Otak pria sangat tersistematis, dengan kemampuan yang tinggi untuk mengelompokkan segala sesuatu, kemampuan yang rendah untuk multitasking, kemampuan yang tinggi untuk mengontrol emosi, orientasi hubungan (relasional) yang rendah, orientasi kerja yang tinggi, kemampuan yang tinggi untuk “mengasingkan diri”, kecenderungan untuk bertindak lebih dulu baru berpikir kemudian jika mengalami stress, respon yang agresif terhadap resiko, dan kecenderungan untuk berkompetisi dengan para pria lain.

Otak wanita mempunyai tingkat empati yang tinggi, kemampuan yang rendah untuk menggolong-golongkan, kemampuan yang tinggi untuk multitasking, kemampuan yang rendah untuk mengontrol emosi, mempunyai orientasi hubungan (relasional), orientasi kerja yang rendah, kemampuan yang rendah untuk “mengasingkan diri”, kecenderungan untuk berpikir dan merasa terlebih dahulu sebelum bertindak dalam meresponi stress, respon yang berhati-hati terhadap resiko, dan kecenderungan untuk bekerja sama dengan para wanita lain.

Mengerti perbedaan cara pria dan wanita berkomunikasi

Sementara percakapan para pria biasanya cenderung berfokus pada fakta-fakta, percakapan wanita cenderung menekankan pada perasaan di balik fakta-fakta. Para pria mengatasi masalah paling baik dengan memikirkan satu masalah pada satu waktu, biasanya dengan berpikir sendiri. Namun wanita secara umum perlu membicarakan masalah mereka dengan orang lain untuk memproses pikiran mereka. Pria mendekati suatu situasi dengan keinginan kuat untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan, sementara wanita kadang hanya ingin membicarakan bagaimana perasaan mereka tentang situasi yang sama.

Pria cenderung berbicara secara langsung dan menggunakan kata-kata literal atau harafiah, dan wanita cenderung berbicara secara tidak langsung. Jadi para istri, berikan suami anda waktu dan ruang yang dia butuhkan untuk memikirkan beberapa isu sendiri, lalu bekerjasamalah dengannya untuk menemukan solusi yang bisa dilakukan oleh anda berdua, dan berbicaralah dengannya secara langsung dengan cara yang bisa dia mengerti secara jelas. Para suami, dengarkanlah istri anda ketika mereka membagi pemikiran dan perasaan mereka tentang hal-hal yang anda hadapi, dan tanyakanlah beberapa pertanyaan untuk mengklarifikasi makna dari apa yang mereka katakan.

Mengerti perbedaan pendekatan pria dan wanita terhadap seks

Pria cenderung mempunyai orientasi fisik, sementara wanita cenderung mempunyai orientasi hubungan (relasional). Pria biasanya terangsang dengan bentuk dan penglihatan mereka, sementara wanita biasanya terangsang dengan perasaan, bau, sentuhan, dan kata-kata. Pria sering menginginkan seks kapanpun dan dimanapun, sementara wanita biasanya menginginkan seks lebih jarang. Para pria biasanya mempunyai respon seksual yang cepat dan sulit terganggu pada saat berhubungan seks, sementara wanita mempunyai respon seksual yang lebih lambat dan lebih mudah terganggu saat berhubungan.

 

Mengerti perbedaan antara “menaklukkan” VS “memelihara”

Pria sangat dimotivasi oleh tindakan “menaklukkan”, mereka cenderung mendefinisikan diri mereka berdasarkan kesuksesan kerja dan pencapaian-pencapaan mereka. Wanita dimotivasi oleh tindakan “memelihara”, mereka cenderung mendefinisikan diri mereka berdasarkan orang-orang yang mereka pedulikan. Jadi para suami, sadarilah bahwa istri anda mempunyai keinginan kuat untuk memelihara anda. Para istri, sadarilah bahwa suami anda mempunyai keinginan kuat untuk sukses dalam segala sasaran mereka, dan mereka ingin anda mengagumi serta menghargai usaha-usaha mereka.

 

Mengerti tentang “penyediaan” VS “rasa aman”

Pria diciptakan untuk menyediakan (terutama) secara finansial kepada keluarganya, sementara wanita diciptakan untuk menyediakan rasa aman secara emosional dan rumah yang damai. Para suami perlu mengetahui bahwa istri mereka melakukan yang terbaik untuk menampilkan suasana rumah yang teratur dan nyaman sementara mereka juga memberi kontribusi finansial untuk keluarga, dan para istri perlu mengetahui bahwa suami mereka melakukan yang terbaik untuk menjadi penyedia secara finansial terhadap kebutuhan keluarga selain juga membantu dengan pekerjaan rumah tangga. Suami dan istri sama-sama memerlukan rasa aman secara emosional dan mengetahui bahwa pasangan mereka benar-benar mencintai mereka dan anak-anak mereka.

 

Mengerti tentang rasa hormat VS cinta

Pria memerlukan rasa hormat dan kekaguman dari istri mereka untuk segala usaha dan pencapaian mereka, mereka juga perlu mengetahui ketertarikan istri mereka terhadap pekerjaan dan hobi mereka. Wanita memerlukan ekspresi cinta yang sering dari suaminya melalui kata-kata dan perbuatan. Para suami ingin istri mereka menghormati pertimbangan dan kemampuan mereka, dan mereka ingin istri mereka menghormati mereka baik di depan umum ataupun secara pribadi. Para istri ingin suami mereka mencintai mereka dengan memperhatikan mereka, memeluk mereka, membantu mereka dengan anak-anak dan pekerjaan rumah tangga, dan mengatakan pada mereka bahwa mereka cantik.

 

Melayani daripada meminta untuk dilayani

Putuskan untuk memenuhi kebutuhan pasangan anda tanpa meminta dia untuk membalas dengan memenuhi kebutuhan anda, dan lakukan pengorbanan-pengorbanan yang dibutuhkan. Dengan menjaga fokus anda untuk melayani daripada keinginan anda untuk dilayani, anda akan meningkatkan kualitas hubungan pernikahan anda, dan menginspirasi pasangan anda untuk melayani anda. Dalam prosesnya, anda berdua akan menemukan bahwa anda dan pasangan lebih kuat dan lebih efektif jika bersama daripada jika terpisah.

 

Post By: Gideon Sanjaya (PAK 2011)

Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa.

Written by Yoggi Herdani
Thursday, 03 June 2010 07:46
Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Di lingkungan Kemdiknas sendiri, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. Tidak kecuali di pendidikan tinggi, pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian yang cukup besar, kemarin (1/06) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan Rembuk Nasioanal dengan  tema “ Membangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaan”. Acara yang digelar di Balai Pertemuan UPI ini, dibidani oleh Pusat Kajian Nasional Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI.
Selain Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof.dr.Fasli Jalal, Ph.D, hadir pula menjadi pembicara seperti Prof.Dr.Mahfud,MD,SH, SU. Prof.Dr.Jimly Asshiddiqie, SH. Prof.Dr.Djohermansyah Djohan, M.A. Prof.Dr.H.Sunaryo Kartadinata,M.Pd. Prof.Dr.H.Dadan Wildan, M.Hum dan Drs. Yadi Ruyadi, M.si.
Wamendiknas dalam acara ini mengungkapkan arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan negara, beliau pun menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.”
Dari bunyi pasal tersebut, Wamendiknas mengungkapkan bahwa telah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter.
Wamendiknas pun mengatakan bahwa, pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan Ilahi, yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. Dalam prosesnya sendiri fitrah Ilahi ini dangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku.
Oleh karena itu Wamendiknas mengatakan bahwasanya sekolah sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture , dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Lebih lanjut Wamendiknas pun berpesan, agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut.
Wamendiknas juga mengatakan bahwa hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku, melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran. Selain itu mengenai sarana-prasaran, pendidikan karakter ini tidak memiliki sarana-prasarana yang istimewa, karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan.
Prihal pengembangannya sendiri, Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantern dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter, mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri ssangatlah luas.
Sehari sebelum acara yang digelar di UPI ini ( 31/05), di Ruang Rapat Komisi X, DPR-RI, diadakan Rapat Kerja yang membahas pendidikan karakter. Hadir dirapat tersebut selain 25 anggota fraksi, adalah Menkokesra, Mendiknas, Menag, Menbudpar, Menpora, Wamendiknas, Perwakilan Kementerian Dalam Negeri, serta para pejabat eselon 1 kementerian terkait.

Dalam Rapat Kerja tersebut dibahas mengenai kesiapan masing-masing kementerian mengenai pendidikan karakter tersebut. Menkokesra sebagai koordinator perumus pendidikan karakter ini menyebutkan bahwa setiap kementerian yang terikat memiliki program-program berencana mengenai pendidikan karakter yang nantinya diajukan sebagai bahan untuk mengagas lahirnya Keppres mengenai pendidikan karakter. Menkokesra pun menyebutkan bahwa nantinya pendidikan karakter ini akan dijadikan aksi bersama dalam pelaksanaannya.
Para anggota fraksi pun melihat pendidikan karakter ini sangat penting dalam membentuk akhlak dan paradigma masyarakat Indonesia. Semoga pendidikan karakter ini tidak hanya menjadi proses pencarian watak bangsa saja, melainkan sebagai corong utama titik balik kesuksesan peradaban bangsa.

Kongres Pendidikan Dunia: Konsep Toleransi Harus Ada dalam Kurikulum

Pendidikan bukan hanya untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang cerdas, tetapi juga mampu menghargai perbedaan dalam keberagaman.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika (kanan) memukul gong sebagai tanda dimulainya Kongres Pendidikan Dunia, diamati oleh Dubes RI untuk Argentina Nurmala Kartini Sjahrir (kedua dari kanan). (VOA/Muliarta)

Gubernur Bali Made Mangku Pastika (kanan) memukul gong sebagai tanda dimulainya Kongres Pendidikan Dunia, diamati oleh Dubes RI untuk Argentina Nurmala Kartini Sjahrir (kedua dari kanan). (VOA/Muliarta)

DENPASAR — Duta Besar Indonesia untuk Argentina, Nurmala Kartini Sjahrir mengatakan, sudah saatnya konsep dan nilai-nilai toleransi diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan untuk mewujudkan perdamaian, karena dunia saat ini dihadapkan pada masalah terorisme, perang dan kebencian.

Berbicara di sela-sela Kongres Pendidikan Dunia di Sanur, Bali pada Senin pagi (23/9), Kartini mengatakan pendidikan harus mengedepankan pemahaman akan pentingnya hidup damai dalam keberagaman budaya.

Selain itu, ujarnya, pentingnya nilai-nilai demokrasi juga harus lebih ditanamkan pada siswa didik karena pendidikan bukan hanya untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang mampu menghargai perbedaan dalam keberagaman.

“Pendidikan haruslah mengarah bukan saja untuk menciptakan manusia-manusia yang pandai tetapi juga manusia-manusia yang sangat menghargai kedamaian. Jadi kita berusaha pendidikan ini nanti haruslah menciptakan manusia-manusia yang punya integritas, punya wawasan yang luas dan harus menghargai kemajemukan,” ujarnya.

Rektor Universitas Udayana Bali, Ketut Suastika mendorong adanya reformasi kurikulum pendidikan agar pendidikan benar-benar mengadopsi nilai-nilai toleransi sehingga peserta didik tidak berpikiran sempit.

“Kurikulumnya juga harus direformasi. Kurikulum itu menyangkut adanya profesionalisme. Profesionalisme itu menyangkut masalah cross culture, bagaimana tentang perbedaan itu diajarkan dalam kurikulum. Mudah-mudahan dengan pendidikan semacam ini orang banyak berubah pikiran tidak berprilaku dalam arti sempit,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Perhimpunan Lembaga-Lembaga Pendidikan Swasta Dunia, Edgardo De Vincenzi mengatakan, motto pendidikan untuk perdamaian sudah saatnya dikembangkan dan dapat dimulai dari sekolah, keluarga dan masyarakat.

“Saat ini, risiko dalam pendidikan meningkat, tidak hanya karena krisis keuangan tetapi juga karena kekerasan, agresi dan pelanggaran hukum. Tidak terhitung tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan pendidikan oleh orang tua, pendidik, dan pemerintah dalam rangka meningkatkan persentase pertumbuhan inklusi sosial,” ujarnya.

Kongres Pendidikan Dunia yang berlangsung selama dua hari mulai Senin diikuti oleh delegasi dari 17 negara, termasuk Amerika Serikat, India, Argentina, Chili, Spanyol dan Indonesia. Beberapa masalah yang dibahas dalam kongres tersebut diantaranya pendidikan dan toleransi, pendidikan dan keberagaman budaya, serta pemberdayaan perempuan dalam pendidikan.

sumber: http://www.voaindonesia.com/content/kongres-pendidikan-dunia-konsep-toleransi-harus-ada-dalam-kurikulum/1755034.html

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: