Love With Care

KOMPAS.com – Kasus bullying masih kerap terjadi di Indonesia. Psikolog Roslina Verauli, MPsi, mengungkapkanbullying adalah tindakan negatif, baik berupa tindakan fisik atau verbal, yang dilakukan pada orang yang dianggap lemah sehingga menyebabkan tekanan fisik atau mental.

“Anak-anak yang sering di-bully adalah anak yang cenderung minder, tidak punya  teman dan pendiam,” ungkap Roslina kepada Kompas Female, saat peluncuran produk kecantikan perempuan beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia menambahkan, peran aktif orang tua diperlukan untuk meminimalisasi terjadinya bullying anak. Roslina lalu membagi tips untuk memperkecil risiko ancaman bullyingpada anak:

1. Ajarkan anak mengungkapkan ketidaknyamanannya
Menurut Roslina, orang tua sering lupa mengajarkan anak agar berani mengungkapkan perasaan ketika merasa tak nyaman atau diperlakukan tak adil. Misal, ketika ada seseorang yang meludah di dekatnya, ajarkan anak untuk menegur orang itu dengan cara yang sopan.

Senada dengan Roslina, psikolog seksual Zoya Amirin juga pernah mengungkapkan pentingnya hal ini. “Ini juga bisa membantu anak perempuan terhindar dari pelecehan seksual yang mungkin dialami,” ujar Zoya kepada Kompas Female, saat kampanye anti-trafficking.

Baca juga: 6 Penyebab Anak Suka Mem-“Bully”

2. Ajar anak bergaul

Salah satu penyebab bullying adalah ketidakmampuan anak untuk memiliki banyak teman, sehingga lebih senang menyendiri. Tipe anak seperti ini cenderung dianggap lemah sehingga mudah ditindas. Kenali penyebab mengapa anak gemar menyendiri, lalu bantu mereka untuk bisa memiliki banyak teman.

3. Perbaiki konsep mengasuh anak

Ketika anak mengalami bullying, jangan buru-buru menyalahkan anak karena tidak bisa melawan. Bisa jadi Anda lah penyebab anak tak berani melawan. “Pola pengasuhan yang salah juga bisa membuat anak bermental lemah dan penakut,” jelasnya. Lemahnya mental anak bisa jadi karena Anda menerapkan pola asuh yang terlalu memanjakan dan membatasi kebebasan mereka.

Solusinya, coba berikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan semua kemampuannya supaya anak merasa hebat. Selain itu jangan selalu menyalahkan anak atas kondisi yang dialaminya, karena hanya akan membuat anak depresi.

%d blogger menyukai ini: