Love With Care

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Maraknya aksi kekerasan pelajar membuat psikolog, A. Kasandra Putranto menyimpulkan keadaan sosial di negeri ini sedang berantakan. Analisa psikolog humas Ikatan Psikologi Klinis, bagian pengembangan ilmu dan profesi Asosiasi Psikologi Forensik ini mengungkapkan, cara pandang sebagian masyarakat sudah kacau, mereka menganggap tindakan anarkis yang sering dipraktikkan oleh sejumlah anak sekolahan di Jakarta adalah lazim dan wajar.

Problem psiko-sosial ini, lanjutnya, menjadikan pelajar makin akrab dengan kekerasan. Pelajar tak canggung lagi melakukannya.

“Tindakan anarkis, tawuran, seks bebas dan kriminologi itu semakin mudah diterima para pelajar kita. Mencari contoh masyarakat yang musyawarah, suka bergotong royong, dan toleransi itu susah, nggak ada itu?” ujar Kasandra kepada Kompas.com, Jumat (19/10/2012).

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Kasandra menyarankan peran keluarga, masyarakat, sekolah, media, aparat dan pemerintah mulai gencar untuk introspeksi dan memperbaiki keadaan dari diri sendiri.

“Saran psikologinya, semua pihak introspeksi dulu. kita hanya butuh resiliensi atau resistensi terhadap aksi tawuran, kekerasan, seks bebas dan kriminologi. Semua itu berasal dari rumah dulu, yaitu perbaiki pendekatan yang baik dengan anak-anak kita di lingkungan keluarga,” katanya lagi.

Dengan begitu, ia mengajak kaum ibu untuk kembali ke rumah dan menjaga anak-anaknya.

“Ayo ibu-ibu kembali ke rumah, jaga anak kita. Tunjukkan yang baik pada mereka. Ayo sekolah tunjukan juga peningkatan siswa, bukan hanya akademis tapi juga sikap dan karakter mereka,” ajaknya.

Selanjutnya, pihak sekolah pun diminta dapat memberikan perhatian lebih pada proses seleksi siswa dengan menggelar psikotes yang tidak hanya memeriksa IQ siswa saja, tetapi juga pemeriksaan emosional anak.

“Dengan begitu anak yang emosinya meledak-ledak dapat terdeteksi. Terlihat dari pemeriksaan itu,” tandasnya.

%d blogger menyukai ini: